Ter
tahankan!
&
laquo; Amalia (O
n
Earth
)Apa yang terjadi kalau suatu hajat tak tertahankan? Akan pipis di celana? Berteriak sekuat tenaga? Berlari? Atau mengganggu sebuah meeting yang serius? Silahkan kalau ingin sharing pengalaman anda di sini. Mau cerita atau komentar apa saja terserah.
Dan sesiangan ini berturut-turut saya mengalaminya. O-o-h bukan, ini bukan perkara kebelet pipis atau hajat yang bagaimana. Ketika akan ke toilet (nah, toilet?). Tunggu dulu, tahan pikiran yang bukan-bukan. Teman saya sambil menyeringai, mengatakan sesuatu ke saya.
“Eh, mobil idamanmu ada di luar tuh”
Dia dan Ibu Direktur tahu apa mobil idaman saya.
“Hah? yang betul? Mini Cooper?”
“He-eh hitam, ada tuh”
Tak tertahankan!
Sumpah!
Meski bukan saya yang punya mobil, adalah Ibu Direktur pemiliknya…. Tapi kami bertiga tahu, betapa Ibu Direktur dan saya mengagumi mobil itu, sudah sejak lama.
Sesungguhnya urusan memiliki Mini Cooper adalah hal yang mudah buat beliau, hanya saja selama ini beliau cukup berhasil menahan diri. Tak sebanding antara harga dan ukuran mobilnya, demikian ungkap beliau suatu ketika. Tapi, kami bertiga sama-sama tahu, betapa kami berdua selalu terbeliak setiap berpapasan dengan sebuah Mini Cooper di jalanan Jakarta yang sesak, macet, sumpek ini. Kami berdua, sampai nonton Italian Job yang dibintangi Charlize Theron demi menyaksikan kelincahan Mini Cooper idaman, meski nontonnya masing-masing.
Beberapa bulan yang lalu Ibu masih bisa bertahan, tapi rupanya keinginan ini termasuk yang tak tertahankan! Maka hadirlah Mini Cooper di depan lobby kantor hari ini, karena kendaraan dinas sehari-hari Ibu harus masuk bengkel (apa tuh? itu yang dipakai kebut-kebutan James Bond di Quantum of Solace, dan yang dipakai kebut-kebutan musuhnya Nicholas Cage di National Treasury).
Lantas, apa yang terjadi dengan saya?
Dari toilet, seperti rencana awal, saya mampir ke mushola, sholat Dhuhur. Dan si mungil Mini Cooper memporak-porandakan separuh rakaat pertama. Untungnya saya jadi makmum. Setelahnya? Jangan ditanya, seketika saya melesat keluar. Saking inginnya lihat si Mini dengan mata kepala sendiri. Kacau ya. Heheheh kalau urusan begini saya bisa degil banget.
Sebelum lobby ada satu pintu di depan ruang meeting dua, yang mesti dibuka pakai kartu magnetik. Karena saya sedang nggak bawa kartu itu, saya beri kode ke Pak Satpam untuk membukakan dari luar. Dari posisi saya berdiri, saya bisa melihat isi ruang meeting dua lewat dinding kaca tembus pandang dari dua sisinya. Ternyata, kehadiran saya mengganggu kosentrasi peserta meeting.
Apa pasal? Adalah Pak W***n, bule Australia, klien saya yang dulu saya jumpai di Kuala Kencana. Ia tak tahan untuk menyapa saya dari dalam ruang meeting, padahal meeting mereka sedang heboh. Serta merta ia melambaikan tangan dan mengucapkan sesuatu, yang nggak mungkin saya dengar, karena ruang itu kedap suara. Belakangan saya tahu, setelah ketemu dia di luar. Ia tak tahan untuk tak mengomentari baju yang saya kenakan hari ini. Padanan batik abstrak berwarna gradasi hijau segar ke kuning dan jilbab hijau muda.
”You wear green huh!”
” You look like Australian, so concern to environment!”
“Hayah… memangnya cuma orang Australi saja Pak?”
Ada-ada saja. Yang jelas, karena ulahnya, meeting yang heboh jadi bubrah. Tak tertahankan sih!
Kembali ke adegan saya di depan pintu, menunggu dibukakan pintu. Begitu pintu terbuka, mbak resepsionist dan pak Satpam berlomba “melaporkan” keindahan si mungil (idaman saya). Hehehe baru tahu ya Mini Cooper itu beautiful! Cantik, imut, bikin gemes (nggak wujudnya, nggak harganya). Lalu saudara, begitu pak Satpam membukakan pintu depan, saya langsung menghambur, mencoba “berkomunikasi” dengan mobil yang cantik begitu rupa, tak lupa mengambil foto-fotonya, meski belum sampai narsisis. Tak tertahankan! Rasanya ingin saya jabat tangan Ibu Direktur, sayangnya beliau sedang meeting.
Sekarang saya jauh lebih lega, setelah menuliskannya dan mem-postingkannya dan kembali ke kenyataan, ada sopir angkot yang selalu setia menawari saya.
Arrgghh… tak tertahankan!