an
g
Release
esby Rudolf Dethu on 09/07/09 at 9:16 am
Sejawat Musikatorians, berikut saya lampirkan rangkuman dialog semi kasual antara saya dengan Rude Boy Dodix. Global citizen kelahiran Bali ini notabene adalah sohib dekat saya. Di urusan Rock ‘n’ Roll, kita pernah tergabung bersama dalam band management Glampunkabilly Inferno yang sempat ber-partnership dengan Superman Is Dead, Navicula, Postmen, pula—secara tak langsung—Suicidal Sinatra. Di lingkungan terdekatnya, Dodix dikenal sebagai peminat/penikmat/penggiat Ska (clearly, check out his name). Paling mutakhir, pria yang juga penyuka tattoo ini mulai merambah dunia per-DJ-an dan mengusung alter ego lain lagi: Sound Bwoy Dodix.
Nah, sehubungan dengan kegandrungannya pada genre yang bermula dari Jamaika tersebut, untuk membinasakan rasa penasaran, saya kemudian memberondongkan sejumlah pertanyaan kepadanya. Silakan disimak. Pick it up – pick it up – pick it up – pick it up – pick it uuup!1. Sejak kapan mulai dengerin Ska dan apa yang bikin suka?
Sekitar tahun 1996, waktu itu album Rancid yang bertajuk ...And Out Come The Wolves dengan single-nya Time Bomb sangat meledak. Di lagu ini, selain memang berbau Ska yang kental, mereka juga memasukkan unsur Reggae di tengah-tengah lagu. Lagu ini yang bisa dibilang menjadi pemicu saya untuk menyelami genre ini secara lebih dalam. Dan sampai hari ini pun Time Bomb tetep sukses bikin bulu kuduk saya merinding.
Di tahun berikutnya, saat sampeyan balik dari gawe di kapal pesiar dan ngasihin saya oleh-oleh majalah Alternative Press #109 08/1997 yang memuat artikel tentang Ska gelombang ke 3 berikut sub-genre-nya, Ska-Punk; dari sana saya jadi banyak mendapatkan referensi tentang aliran musik ini dan band-band Ska saat itu. Dari situlah saya jadi jatuh cinta dengan musik Ska—utamanya Ska Punk—sampai sekarang.